Bukan, ini bukan mau ngomongin band asal inggris itu. Muse Research adalah perusahaan asal Amerika yang bergerak di bidang teknologi musik (hwadao, istilah ngarang nih, hihi..). Nah Muse Research ini barusan ngeluarin produk terbarunya yang dikasih nama Receptor. Makhluk apakah ini? sebelum ngebahas receptor, mending kita bahas dulu ide awal pembuatan alat ini.

Buat yang demen digital recording tentunya udah nggak asing lagi sama yang namanya VST (Virtual Studio Technology). VST ini adalah semacam teknologi tatap muka untuk mensimulasikan studio rekaman analog kedalam sebuah monitor komputer, sebut aja fader, jog dial, potensio dll yang biasanya ada di mixer, piranti rekam analog dan sebagainya.
Di dalam digital recording, sumber suara nggak harus melulu melalui alat musik analog macam gitar, piano, drum (kecuali vokal manusia yang emang belum ada gantinya),

semuanya bisa diganti dengan VST Instrument (VSTi). VSTi ini adalah software yang bisa mensimulasikan alat2 musik. Misalnya : B4 Organ II yang bisa mensimulasikan segala macam organ, Akoustik piano ato The Grand yang bisa mensimulasikan suara Grand Piano, FXPansion BFD yang jagonya simulasi Drum, dan banyak lagi yang semuanya nggak bakal habis dibahas di sini.
Dengan adanya VSTi ini, musisi (khususnya kibordis) jadi terbantu buat menghemat biaya. Cuman dengan sebuah komputer, midi controller (biasanya berbentuk kibor), dan software VST, bisa menggantikan puluhan bahkan ratusan karakter sound alat musik yang kalo dibeli semuanya mungkin akan menghabiskan dana dan tempat penyimpanan yang nggak sedikit.
Kalo buat studio digital, PC emang cocok banget buat dijadikan sebagai VST Host. Selain kemampuannya yang bisa di-expand (misal RAM-nya dijadiin 5 GB, pake 2 LCD biar ngeditnya gampang), keadaan studio juga relatif aman untuk sebuah PC yang hardwarenya rata2 rentan terhadap goncangan. Masalahnya adalah ada beberapa orang yang perlu plug-in2 ini untuk dibawa serta da;am kondisi Live, misalnya seorang kibordis yang cuman punya kibor "PSR-mainan", secara teori jelas ga mungkin kibor ini bisa menghasilkan bunyi Grand Piano sedahsyat Roland RD. Solusinya? Kibor PSR ini bisa dijadikan sebagai MIDI Controller dengan Laptop sebagai VST Host-nya (dalam hal ini berfungsi sebagai Sound Generator, karena yang dipake adalah plug-in VSTi-nya). Tapi bukannya ribet tuh, harus nyalain kompie dulu, setting MIDI connection, nyalain VST-nya, belum lagi resiko Laptop nya tewas gara2 plug-in nya terlalu banyak?
Di sinilah kita perlu Receptor. Receptor ini adalah hardware yang didesain khusus untuk menggantikan fungsi PC/Laptop sebagai VST Host. Dengan Receptor, kita

nggak perlu nginstal2 Ableton Live, FL Studio dkk yang kadang minta spek komputer yang gila2an supaya mereka bisa jalan dengan mulus. Dengan receptor, kita cuman perlu nginstal plug-in2 yang kita perlukan. Ditambah lagi, karena bentuknya yang kokoh serta fungsinya yang didesain khusus untuk menjalankan plug-in VST, kita nggak perlu khawatir lagi dengan kemungkinan komputer Hang atau Plug-in yang gak kompatibel dengan VST softwarenya.
Receptor yang paling baru (Receptor with Komplete Inside) dipersenjatai dengan Muse Research Receptor Model Rev C dengan Memori 2 GB, kapasitas Hardisk hingga 750 GB, plus 11 buah plug-in Instrument dan Efek (
Absynth 4, Akoustik Piano, B4II, Battery 3, Elektrik Piano, FM8, Guitar Rig 3 Software Edition,
Kontakt 3, MASSIVE, Pro-53, Reaktor 5)
Desain hardware ini keren banget, ukurannya 1U rack. Di panel depan tersusun beberapa
tombol untuk editing, beberapa buah potensio, satu buah colokan input dan colokan output

untuk headphone. Dilengkapi LCD yang bisa menampung dua baris karakter dengan backlight berwarna kuning. Di bagian belakangnya terdapat colokan MIDI, S/PDIF output, Stereo input dan output, colokan optical untuk koneksi ADAT, port VGA, PS/2, USB serta port RJ45 untuk LAN.
Beberapa keunggulan Receptor ini :
- Karena berbasis hardware, otomatis nggak ada batasan pada sesi sound nya. Kita bisa terus make ni hardware selama ada yang mau bikin plug-in nya.
- Latency-nya rendah, cuman sekitar 2 ms. Latency ini adalah rentang waktu yang tercipta antara kita pas kita mencet tuts di midi controller ampe suaranya keluar di speaker.
- Lebih stabil, karenya softwarenya memang dirancang hanya untuk menjalankan plug-in VST (kecuali ada yang mau nge-hack ni Receptor biar bisa muter DVD kayak PS2 hihi..)
- Simpel banget, ga ada yang perlu diatur/dikonfigurasi untuk menjalankan Receptor. Tinggal colok trus tinggal aja di belakang panggung hehe..
Trus cara makenya gimana..? gampang ko, sama persis kaya di komputer, Receptor juga bisa dihubungin ama Mouse+Kibor plus minitor, jadi emang ga ada bedanya ama make komputer.
Salah satu fasilitas yang diunggulkan di Receptor ini adalah plug-in yang namanya Uniwire. Uniwire ini adalah plug-in yang memungkinkan kita menghubungkan Receptor dengan

PC melalui kabel RJ45 (lewat jaringan). Data yang bisa lewat? semuanya! Midi dan data audio semuanya bisa dikirim lewat plug-in ini. Isitimewanya apa dong? Jadinya Receptor di sini bisa kita fungsikan kaya Send-Return nya routing audio analog. Misal kita lagi rekaman pake Nuendo, ternyata CPU kita udah nggak kiat lagi buat nambahin efek Reverb. Gampang, tinggal colokin ke Receptor, hubungkan dengan kabel RJ45, jalanin Uniwire-nya, trus kita bisa make semua Plug-in yang kesimpan di Receptor tanpa membebani kinerja CPU kita. Keren kaan..??

Harganya emang agak mahal untuk ukuran orang Indonesia yang beras aja masih ngimpor ini, kalo gak salah untuk Receptornya aja dilepas seharga 21 juta-an, Komplete-nya sekitar 11 jeti. Yaa.. kurang lebih sama harga K-2600x lah, tapi yang ini nggak bakal ketinggalan jaman, plus nggak perlu nge-gaji kru buat ngegotong2 kibor yang beratnya bisa nyaingin barbel itu , hihi..
So, pilih Synthesizer atau mau nyoba beralih ke Softsynth..? It's all your choice..

link terkait:
Muse Research,
VST di WIKIgambar dari
Muse Research